Selasa, 28 Mei 2013
STRATEGI SELF MANAGEMENT
ANISAA’I MAHMUDAH
STRATEGI SELF- MANAGEMENT
A. KONSEP DASAR
Self-management adalah suatu strategi pengubahan perilaku yang dalam prosesnya klien mengarahkan perubahan perilakunya sendiri dengan suatu teknik atau kombinasi teknik terapeutik (Cormier dan Cormier, 1989;519). Self management merupakan suatu strategi yang masih relative baru dalam konseling: “Self management is a relative recent strategy in counseling” (Cormier dan Cormier, 1985:519). Pengelolaan diri baru muncul pada tahun 1970 dari tradisi konseling behavioral kontemporer setelah kaum behavioral memperhatikan pentingnya kognisi terhadap terjadinya perubahan perilaku dan memberikan apresiasi terhadap kekuatan self-directed behavior (Shelton, 1976:126).
Pada awal dikembangkannya self management masih belum terdapat istilah yang mantap untuk digunakannya masih belum ada kesepakatan dari para pelopornya sehingga masih bervariasi istilah yang digunakan. Dalam Fauzan (1992:33) istilah Self-management memiliki beberapa padanan istilah seperti Self-management dari Michenbaun, Self-control dari Mahoney & Thoresen dan Self-direction dari Watson & Tharp. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan pengubahan perilaku individu oleh dirinya sendiri.. Meskipun pada awalnya masih bervariasi istilah yang digunakan, tetapi pada perkembangan-perkembangan selanjutnya terdapat kesepakatan untuk menggunakan istilah self management. Demikian pula Cormier dan Cormier (1989:519) memandang lebih tepat menggunakan istilah self management itu karena :
1. Self management lebih menunjuk pada pelaksanaan dan penanganan kehidupan seseorang dengan menggunakan suatu keterampilan yang dipelajari.
2. Self management juga dapat menghindarkan konsep inhibisi dan pengendalian dari luar yang seringkali dikaitkan dengan konsep control dan regulasi.
B. PANDANGAN TENTANG MANUSIA
Self-management merupakan suatu strategi kognitif behavioral. Anggapan dasarnya adalah bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan positif maupun negatif. Segenap perilaku manusia itu merupakan hasil dari proses belajar dalam merespons terhadap berbagai stimulus dari lingkungannya. Namun self-management menentang keras pandangan behavioral radikal yang mengatakan bahwa manusia itu sepenuhnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya. Secara tegas Cormier dan Cormier (dalam Martin, 1996) mengatakan bahwa self-management bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministik dan mekanistik yang menyingkirkan potensi klien untuk membuat pilihan dan keputusan. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam proses belajar untuk menghasilkan perilaku itu aspek kognitif juga memiliki peranan penting terutama dalam mempertimbangkan berbagai tindakan yang hendak dilakukan, menentukan pilihan-pilihan tindakan itu, dan mengambil keputusan tindakan perilakunya.
Berdasarkan pandangan tentang hakikat manusia dan perilakunya itu, maka diterapkannya self-management dalam konseling bertujuan untuk rnembantu konseli agar dapat mengubah perilaku negatifnya dan mengembangkan perilaku positifnya dengan jalan mengamati diri sendiri, mencatat perilaku-perilaku tertentu (pikiran, perasaan, dan tindakannya) dan interaksinya dengan peristiwa-peristiwa lingkungannya, menata kembali lingkungan sebagai isyarat khusus atau anteseden atas respons tertentu, serta menghadirkan diri dan menentukan sendiri stimulus positif yang mengikuti respons yang diinginkan.
C. PANDANGAN TENTANG PERILAKU NORMAL
Ada beberapa asumsi dasar perilaku normal yang melandasi self-management sebagai strategi pengubahan dan pengembangan perilaku dalam konseling yaitu:
1) Manusia memiliki kemampuan untuk mengamati; mencatat; dan menilai pikiran, perasaan, dan tindakannya sendiri.
2) Manusia memiliki kekuatan dan keterampilan yang dapat dikembangkan untuk menyeleksi faktor-faktor lingkungan.
3) Manusia memiliki kekuatan untuk memilih perilaku yang dapat menimbulkan rasa senang dan menjauhkan perilaku yang menimbulkan perasaan tidak senang.
4) Penyerahan tanggung jawab kepada klien untuk mengubah atau mengembangkan perilaku positifnya amat sesuai dengan kedirian klien karena klienlah yang paling tahu, paling bertanggung jawab, dan dengan demikian paling mungkin untuk mengubah dirinya.
5) Ikhtiar mengubah atau mengembangkan diri atas dasar inisiatif dan penemuan sendiri, membuat perubahan itu bertahan lama (Cormier & Cormier, 1985 ; Nye, 1975; Mayer, 1978; O’leary & O'Leary, 1977 dalam Martin, 1996).
D. PANDANGAN TENTANG PERILAKU MENYIMPANG
Perilaku menyimpang yaitu ketidakmampuan diri dalam mengelola dan mengatur diri sendiri sesuai dengan peran dan tanggung jawab. Contohnya : suka menunda-nunda, melempar tanggung jawab, dan lain-lain.
Masalah-masalah yang dapat ditangani dengan teknik manajemen diri, diantaranya yaitu:
1. Perilaku yang tidak berkaitan dengan orang lain tetapi mengganggu orang lain dan diri sendiri. Contohnya merokok disadari atau tidak menganggu orang lain dan merugikan organ tubuh.
2. Perilaku yang sering muncul tanpa diprediksi waktu kemunculannya, sehingga control dari orang lain menjadi kurang efektif. Seperti program diet.
3. Perilaku sasaran berbentuk verbal dan berkaitan dengan evaluasi diri dan control diri. Misalnya terlalu mengkritik diri sendiri
4. Tanggung jawab atas perubahan atau pemeliharaan tingkah laku adalah tanggung jawab konseli. Contoh konseli yang sedang menulis skripsi (Sukadji, 1983 dalam Gantina)
E. TEKNIK TERAPI
1. PENGERTIAN
Pengelolahan diri adalah prosedur dimana individu mengeatur prilakunya sendiri (Gantina 2011:180). Selanjutnya menurut Gie (1996:95) manajemen diri adalah dimana setelah seseorang menetapkan tujuan hidup bagi dirinya, ia harus mengatur dan mengelola dirinya sebaik-baiknya untuk membawanya ke arah tercapainya tujuan hidup dan itu juga segenap kegiatan dan langkah mengatur dan mengelola dirinya. Sedangkan menurut Cormier dan Cormier (1985) , Strategi self management merupakan suatu proses terapi dimana konseli mengarahkan perubahan perilaku mereka sendiri dengan satu atau lebih strategi terapi secara kombinatif.
Pada teknik ini individu terlibat pada beberapa atau keseluruhan komponen dasar, yaitu: menentukan perilaku sasaran, memonitor perilaku tersebu, memilih prosedur yang akan diterapkan, melaksanakan prosedur tersebut, dan mengevaluasi prosedur tersebut (sukadji, 1983, dalam Gantina)
2. TUJUAN TEKNIK SELF MANAGEMENT
Tujuan dari teknik pengelolahan diri yaitu Agar individu secara teliti dapat menempatkan diri dalam situasi-situasi yang menghambat tingkah laku yang mereka hendak hilangkan dan belajar untuk mencegah timbulnya perilaku atau masalah yang tidak dikehendaki. Dalam arti individu dapat mengelola pikiran, perasaan dan perbuatan mereka sehingga mendorong pada pengindraan terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan hal-hal yang baik dan benar.
3. MANFAAT
Manfaat dari pengeolahan diri, diantaranya yaitu:
1. Membantu individu untuk dapat mengelola diri baik pikiran, perasaan dan perbuatan sehingga dapat berkembang secara optimal
2. Dengan melibatkan individu secara aktif maka akan menimbulkan perasaan bebas dari kontrol orang lain
3. Dengan meletakkan tanggung jawab perubahan sepenuhnya kepada individu maka dia akan menganggap bahwa perubahan yang terjadi karena usahanya sendiri dan lebih tahan lama
4. Individu dapat semakin mampu untuk menjalani hidup yang diarahkan sendiri dan tidak tergantung lagi pada konselor untuk berurusan dengan masalah mereka
4. KEUNGGULAN
Self-management memiliki banyak keunggulan dan kegunaan dalam berbagai hal sebagaimana diungkapkan dalam Fatmawati (2003), Henny (1994) dan Fauzan (1982). Keunggulan dan keguanaan Self-management antara lain :
1. Individu dapat terlibat aktif dan dominan dalam pelaksanaan Self-management
2. Menciptakan kebebasan dari ketergantungan dan kontrol orang lain
3. Pengubahan tingkah laku yang diperoleh lebih tahan lama
4. Keterlibatan guru atau ahli pengubahan perilaku relative sedikit
5. Dapat meningkatkan generalisasi belajar
6. Mudah dilaksanakan dan tidak mahal
7. Rosyidan (Fatmawati, 2003) membuktikan bahwa pengelolaan diri dapat mengatasi masalah terlalu berat merokok, kebiasaan belajar yang jelek, tidak dapat tidur dan tidak dapat mengelola waktu dengan baik.
8. Shelton (1983) membuktikan bahwa pengelolaan diri dapat dipergunakan untuk melatih sikap tegas
9. Richard (Fauzan, 1992) membuktikan bahwa dengan pengelolaan diri dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
5. KENDALA
Self-management sebagai suatu metode selain memiliki keunggulan juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
• Pelaksanaan program ini sangat tergantung dari kesediaan individu
• Untuk tingkah laku sasaran yang bersifat pribadi tidak jarang hal ini sulit diamati
• Penggunaan reinforcement (penguatan) berupa daya imajinasi hanya dapat disarankan untuk individu yang mempunyai daya khayal yang cukup baik
• Memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang mencukupi untuk pengubahan diri
• Lingkungan sekitar dan keadaan diri individu di masa datang sering tidak dapat diatur, diprediksikan dan bersifat kompleks
6. ASPEK-ASPEK
1. Konseli dilatih pengarahan diri dalam interview
2. Konseli mengarahkan diri sendiri melalui tugas rumah
3. Konseli mengamati sendiri dan mencatat sendiri tingkah laku yang diinginkan/pekerjaan rumah
4. Menghadiahi diri sendiri setelah keberhasilan langkah-langkah tindakannya dan tugas rumah
7. KARAKTERISTIK STRATEGI SELF MANAGEMENT EFEKTIF :
1. Menggunakan kombinasi strategi, beberapa memusatkan pada tingkah laku anteseden dan yang lain pada konsekuen.
2. Menggunakan strategi secara konsisten (istikomah) dalam jangka waktu tertentu.
3. Adanya bukti evaluasi diri dari konseli, membentuk tujuan dengan standar yang tidak terlalu tinggi, realistis dan terjangkau.
4. Menggunakan penguat diri.
5. Adanya dukungan lingkungan.
8. PROSEDUR
Menurut Cormier dn Cormier (1985), terdapat tiga strategi atau prosedur self management, yaitu : 1. Self monitoring, 2. Stimulus control dan 3. Self reward. Ketiga prosedur tersebut diklasifikasikan sebagai self management karena dalam setiap prosedur tersebut konseli dalam suatu tampilan yang mengarahkan diri, mengubah atau mengendalikan anteseden atau konsekuensi untuk menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan. Bagamanapun, tak satu pun dari strategi tersebut benar-benar bebas dari variable lingkungan dan sumber-sumber pengaruh eksternal (Jones,dkk, 1977).
Cormier dan Cormier (1985), selanjutnya menggabungkan kelima karakteristik strategi dalam sebelas langkah self management. Berikut langkah-langkahnya :
LANGKAH PENGEMBANGAN PROGRAM STRATEGI SELF-MANAGEMENT
Cormier (1985) memberikan langkah pengembangan program dalam self-management sebagai berikut:
1 : konseli mengidentifikasi dan mencatat sasaran perilaku dan mengontrol penyebab serta akibatnya
2 : konseli mengidentifikasi perilaku yang diharapkan arah perubahannya
3 : konselor menjelaskan kemungkinan strategi pengelolaan diri (self-management)
4 : konseli memilih satu atau lebih strategi self-management
5 : konseli menyatakan secara verbal persetujuan untuk menggunakan strategi self-management
6 : konselor mengajarkan dan memberi contoh strategi yang dipilih (self monitoring, stimulus control dan self reward)
7 : konseli mengulang pemahaman strategi yang dipilih
8 : konseli menggunakan strategi yang dipilih dalam kehidupan nyata
9 : konseli mencatat penggunaan strategi serta tingkat perilaku sasaran
10 : data konseli diperiksa oleh konselor bersama konseli dan konseli melanjutkan atau membuat revisi program
11 : membuat catatan dan penyajian data pada diri sendiri dan penguat demi kemajuan
9. PROSEDUR/LANGKAH-LANGKAH STRATEGI SELF-MANAGEMENT
Prosedur self management yaitu pemantauan diri (Self-monitoring), kendali rangsang (Stimulus control), penghargaan diri (Self-reward).
1. Pemantauan Diri (Self-monitoring)
Menurut Cormier (1985:526), pemantauan diri adalah suatu proses di mana klien mengamati dan mencatat hal-hal tentang diri mereka dengan situasi lingkungan.
Contoh : Kasus Tini menambah pikiran-pikiran positif (dan secara simultan mengurangi pikiran-pikiran negative) tentang kemampuannya untuk mengerjakan matematika dengan baik.
Thoresen dan Mahoney (dalam Cormier, 1985:526) memberi langkah-langkah dalam strategi pemantauan diri yaitu:
a. Rasional Strategi
Konselor menjelaskan rasional dari pemantauan diri sebelum menggunakannya, artinya konselor akan memberi penjelasan tentang apa yang akan dimonitor dan mengapa, menekankan bahwa hal ini dapat dilakukan sendiri dan dapat dilakukan sesering mungkin.
b. Memilih Respon
Ketika konseli telah menyetujui untuk menggunakan pemantauan diri, pengamatan dan penelitian respon yang dikehendaki mutlak diperlukan. Pemilihan respon dapat langsung kapan saja, ketika konseli dapat membantu ada atau tidak adanya sikap. Pemilihan respon ini dapat membantu konseli mengenali apa yang mesti dilakukan.
Konselor perlu membantu klien menentukan usaha yang ditargetkan secara eksplisit missal ‘ setiap saya berpikir tentang diri saya mengerjakan matematika dengan baik”, konselor dapat member contoh respon missal “ haa saya dapat berhasil mengerjakan pr matematika dengan baik”
c. Mencatat Respon
Setelah konseli memilih respon, konselor memberikan petunjuk dan contoh tentang metode untuk mencatat respon yang telah disepakati. Pencatat yang sistematis penting sekali untuk keberhasilan dan pematauan diri. Sehingga konseli perlu diberitahu pentingnya metode pencatatan yang dibutuhkan untuk mencatat respon yang ada.
d. Memetakan Respon
Data yang telah dicatat oleh konseli sebaiknya dipindah pada penyimpanan catatan yang lebih permanen seperti grafik atau histogram yang memungkinkan konseli dapat memeriksa data dari pemantauan diri secara visual. Konseli sebaiknya menerima pemantauan diri instruksi-instruksi lisan maupun tulisan yang ada dalam pembuatan grafik harian dari pemetaan respon.
e. Mempertunjukkan Data
Setelah gambaran tersebut dijelaskan oleh konseli, selanjutnya konselor meminta data yang telah dicatat oleh konseli untuk ditunjukkan kepada konselor untuk dianalisa.
f. Analisis Data
Dalam hal ini, konselor dapat meminta konseli untuk membandingkan data dengan tujuan standar yang diinginkan. Konseli dapat menggunakan data untuk evaluasi diri dan memastikan apakah data yang menunjukkan tingkah laku itu tetap atau keluar darri batasan yang diinginkan.
2. Kendali Rangsang (Stimulus-control)
Kanfer (dalam Cormier, 1985:524), mengatakan bawa pengendalian rangsang digunakan untuk mengurangi perilaku-perilaku yang tidak diinginkan dan dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan.
A. Stumulus control untuk mengurangi jumlah perilaku.
Contoh : perilaku problem yaitu mengurangi berat badan (makan berlebihan)
1. Beri tanda pada satu piring untuk makan semua jenis makan dan camilan
2. Jangan makan ketika membaca
3. Membeli makanan yang tak berlemak
4. Susun kembali almari makan dan kulkas supaya makanan kecil tidak mudah diambil.
5. Simpan makanan di tempat tertutup
6. Atur makanan dipiring dan letakkan didapur, jangan di meja makan
7. Pakai piring/mangkok yang lebih kecil agar makan kelihatan tampak besar
B. Stimulus control
Stimulus control adalah penyusunan / perencanaan yang telah ditentukan sebelumnya, yang membuat terlaksananya / dilakukannya tingkah laku. Kondisi lingkungan berfungsi sebagai tanda / anteseden merupakan suatu stimulus untuk suatu respon tertentu.
Contoh : dalam kasus kecanduan rokok. Respon perokok banyak berhubungan dengan petunjuk lingkungan (stimulus) :
Tekanan mengumpulkan tugas ---------- merokok
Habis makan ---------------------------------- merokok
Nongkrong ------------------------------------- merokok
Ngopi -------------------------------------------- merokok
Dalam kasus ini tujuan utama dari stimulus control adalah ---- mengurangi jumlah petunjuk/tanda/syarat yang berhubungan dengan suatu yang tidak diinginkan dan secara simultan menambah syarat / petunjuk antisiden yang dihibungkan dengan respon yang diinginkan.
3. Penghargaan Diri (Self-reward)
Menurut Cormier (2985:539) “Penghargaan diri digunakan untuk memperkuat atau menambah respon yang diingikan. Penghargaan diri berfungsi mempercepat tingkah laku”.
Ada 4 komponen yang merupakan bagian integral dari prosedur penghargaan diri yang efektif, yaitu:
1. Pemilihan hadiah yang memadai
a. Hadiah bersifat mendidik
b. Gunakan beberapa hadiah
c. Gunakan bermacam jenis (verbal, material, mutakhir, potensial dan sebagainya)
d. Tukar hadiah bila tidak cocok
2. Pengadaan hadiah
a. Konseli sendiri yang menentukan kelayakan respon yang ditargetkan
b. Tentukan sendiri seberapa banyak yang akan dilakukan dalam hubungan dengan hadiah yang telah dipilih
3. Pengaturan waktu penghargaan diri
a. Hadiah harus dilakukan sesudahnya, bukan sebelum tingkah laku
b. Hadiah harus disegerakan
c. Hadiah harus mengikuti perubahan bukan janji-janji
4. Rencana untuk mempertahankan pengubahan diri
a. Cari bantuan orang lain untuk sharing atau menyalurkan hadiah
b. Tinjauan data dengan konselor
DAFTAR PUSTAKA
Cormier, K. S., 1989. A Meta-analysis of the Efficacy of Cognitive Theraphy for Depression. Journal of Consulting and Clinical Psychology
Lutfiana.2012.Praktik Konseling Self Management. At http://nurma-Bimbingan dan konseling diunduh pada tanggal 08 April 2013
Nurma. 2010. Praktik Konseling Self Management. at http://nurma-bimbingankonselingmantuban.blogspot.com/2010/06/praktik-teknik-konseling-self.html diunduh pada tanggal 09 April 2013
Nursalim, Strategi Konseling. Surabaya. Unesa University Press.
Woolfolk, Anita. 2005. Educational Psychology. New York. Pearson Education. Inc
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
permisi ka mau tanya, ada punya link buku shelton nya ka ?
BalasHapus